Rabu, 03 Oktober 2012

Media_Suara Galilea... Syalom


SAINS DAN POSTMODERN
Oleh: Yohanes Reinnamah
Postmodern yaitu sebuah konsep heuristik yang mula-mula menolak memutlakkan rasio dan sains, tetapi kemudian berkembang menjadi penolakan terhadap pemutlakan apapun. Segala sesuatu yang dipikirkan oleh manusia termasuk agama dan/atau teologi bersifat terbatas. Oleh karena itu setiap manusia harus terbuka kepada alternatif lain. Dengan demikian postmodernisme berarti juga penerimaan terhadap berbagai aliran pluralisme, termasuk kemajemukan agama atau theologi. Selama ini, pengertian “modern” selalu dihubungkan dengan sebuah gambaran dunia tertentu, yang diperoleh dari hasil-hasil ilmu pengetahuan sains. Bahkan seringkali gambaran dunia modern diidentikkan dengan gambaran dunia sains. Ciri khas modernitas adalah pemanfaatan rasionalitas, dan gambaran dunia sains adalah hasil dari pemanfaatan rasionalitas tadi. Padahal postmodernisme berusaha menyajikan sebuah alternatif lain daripada gambaran dunia sains. Minimal kita dapat memperlihatkan bahwa gambaran dunia sains atau modern itu tidak identik dengan realitas bahwa gambaran dunia tersebut hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak gambaran dunia, termasuk gambaran dunia dari agama-agama.
Pembukaan alternatif ini bisa menyebabkan kesalahpahaman, seakan-akan postmodernisme mencakup juga kembalinya konservatisme dan tradisionalisme. Kalau gambaran dunia dari agama-agama, katakanlah gambaran dunia dari agama Kristen yang diperoleh dari kitab Kejadian pasal 1-3, sehingga memunculkan berbagai pertanyaan-pertanyaan diantaranya adalah: Apakah postmodernisme berarti relativisme, di mana masing-masing pihak berdiri pada sudutnya sendiri-sendiri dan mempertahankan kebenarannya sendiri-sendiri : “menurut kamu begitu, tetapi menurut saya begini”. Memang ada yang berpendapat demikian. Karena post modern selalu menerima keberagaman dalam berpendapat tanpa menyalahkan atau membenarkan pendapat yang satu tetapi banyak juga di temukan teman-teman yang menafsirkan postmodern secara konservatif. Melihat berkembangnya postmodernisme sebagai kesempatan untuk mematahkan dominasi metode kritis-historis dan memperkembangkan pendekatan “post-kritis”. Maka introduksi dari metode yang lebih baru misalnya metode kritis-literer akan disambut baik dan dianggap sebagai bagian dari pendekatan post-kritis. Tentu saja orang bisa mengatakan bahwa “post kritis” tidak berarti “tidak kritis”, akan tetapi seringkali sulit menemukan pengikut pendekatan post-kritis yang berfikir kritis terhadap pemahaman tertentu mengenai teks Alkitab. Pemahaman tertentu ini dianggap sebagai “teks autoritatif”. Itu baru berupa segi pemahaman terhadap teks, belum berupa peninjauan kritis terhadap teks sendiri! Berarti orang kembali ke situasi sebelum penggunaan metode-metode yang bersifat kritis, yaitu “pra-kritis”. Salah paham terhadap berkembangnya metode kritis-literer meneyebapkan munculnya pandangan bahwa Alkitab bukanlah merupakan kumpulan rumus-rumus proposisional melainkan merupakan sebuah Cerita atau Narasi Besar.
Penemuan pokok narasi di dalam menggali kekayaan Alkitab menyebabkan sebagian orang di dunia teologi sistematik-etis/filsafati cenderung menentukan bahwa Firman Allah pada mulanya adalah narasi dan baru kemudian dibatasi oleh manusia dengan mengubah narasi menjadi proposisi, dan sekarang yang mengandung kebenaran adalah narasi dan bukan proposisi. Padahal dalam perkembangan studi Alkitab misalnya mengenai asal-usul Injil-injil di dalam Perjanjian Baru, semakin banyak penafsir yang yakin bahwa yang mula-mula terkumpul adalah proposisi-proposisi dalam bentuk “perkataan yesus”. Baru kemudian "perkataan" ini diberi kerangka narasi. Menurut saya bahwa aliran "teologi narasi" yang meyakini bahwa Alkitab adalah satu Cerita Besar sebenarnya merupakan teologi sistematik-etis/filsafati yang dikemas dalam bentuk baru berupa narasi, tetapi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkembangan metode kritis-literer-naratif, yang justru merupakan indikasi dari pengaruh postmodernisme di dalam bidang penafsiran Alkitab
Dari contoh di atas kiranya jelas bahwa postmodernisme tidak berarti kembali ke konservatisme atau tradisionalisme. Itu berarti orang boleh tetap konservatif dan tradisional. Yang dilawan oleh postmodernisme bukanlah pemahaman yang bersifat konservatif atau tradisional, melainkan pemutlakannya, yang biasanya disebut konservatisme dan tradisionalisme. Di atas kita telah melihat bahwa postmodernisme melawan pemutlakan apapun. Di dalam konteks pembicaraan Küng itu berarti perlawanan terhadap pemutlakan gambaran dunia sains, yang biasanya disebut saintisme. Tetapi perlawanan terhadap pemutlakan gambaran dunia sains ini tidak berarti mengganti pemutlakan gambaran dunia sains dengan pemutlakan gambaran dunia yang lain. Berjalan pada jalur "postmo" tidak berarti kembali ke ketertutupan. Gejala menutup diri ini nampak pada argumentasi orang, yang mempersilakan yang lain menjalankan pendapatnya, tetapi dia akan bertahan pada pendapatnya sendiri. Kelihatannya hal ini bukan ketertutupan melainkan toleransi, namun saya mau mengatakan bahwa banyak pemahaman toleransi di Indonesia, yang sebetulnya merupakan "kesadaran palsu" yang menyelubungi ketertutupan satu terhadap yang lain.
Seharusnya kita harus mewaspadai perbedaan-perbedaan sains dari humaniora, pada akhirnya pengambilalihan teori perubahan paradigma dari sains ke teologi didasarkan atas kedekatan analogis di antara teologi dan sains. Di dunia Barat biar bagaimanapun sains masih tetap memegang wibawa yang paling tinggi sebagai "Queen of the Sciences". Kedudukan ini diperolehnya dengan jalan menurunkan teologi dari kedudukannya yang tadinya adalah sebagai "Queen of the Sciences", seperti yang kita baca dari sejarah masa Pencerahan di Eropa Barat. Oleh karena itu apabila teologi ingin mendapatkan kembali pengaruh di dalam hidup bermasyarakat, teologi tetap perlu mempertahankan kedekatan analoginya dengan sains. Teori perubahan paradigma dari Kuhn memang telah menggoncangkan dunia sains pada tahun 70-an sampai 80-an. Tetapi yang sering dilupakan adalah bahwa teori ini tidak sedikitpun menggeser kemutlakan gambaran dunia sains. Ia masih tetap merupakan bagian dari dominasi gambaran dunia sains terhadap/dibandingkan dengan gambaran-gambaran dunia lainnya.
Maka marilah kita menerima perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara kita sebagai sebuah dinamika, dengan melihat pada makna dari perbedaan yang menghasilkan pengkayaan akan cakrawala berpikir kita tetapi janganlah perbedaan kita ini di lihat dari bagian pertentangan yang akan bermuara pada sekat-sekat di dalam batin. Buat teman-teman GMKI se-cabang kupang atau siapa saja yang sempat membaca tulisan ini, marilah kita sama-sama belajar menghadirkan kembali tokoh abadi sepanjang masa yakni yesus kristus yang penuh kasih, dan rendah hati serta memiliki pengharapan akan hasil yang akan di tuai nanti di setiap tapak-tapak langkah kita di tengah asa dunia. Akhirnya di bawah terang tema “Jadilah Berhikamat! Berjalanlah Pada Jalan Kebenaran Di Tengah-Tengah Jalan Keadilan” saya ucapkan “Ut Omnes Unum Sint” bauat kita semua. Yesus kristus sang kepala gerakan akan meyertai kita semua. Amin


Senin, 01 Oktober 2012

POSISI BUDAYA SUMBA DALAM MENGHADAPI ERA MODERNISASI
Umbu Hapu A. Praing
Bicara budaya/adat istiadat bagi orang sumba adalah identitas/kebanggaan yang tidak dapat dipisahkan, budaya atau adat-istiadat selalu melekat kemanapun orang itu pergi. Ini dapat dilihat lewat tutur katanya yang santun dan dari cara berpakaian adatnya. Sumba terkenal dengan pulau cendana, kuda sandlewood, padang sabana, bentuk rumahnya yang khas dan beberapa burung langka yang hanya terdapat disumba tidak ditemukan di daerah lain. Namun yang menjadi keunikan tersendiri bagi orang sumba adalah budaya/adat-istiadat dan prosesi perayaan atau pelaksanaannya yang rumit dan menghabiskan jutaan bahkan miliyaran rupiah. Misalnya rumah adatnya yang terbuat dari bahan dasar kayu, alang, rotan dengan menara yang sangat tinggi. Kuburan yang terbuat dari batu yang diambil di bukit dan di laut. Ada perayaan nyale di kodi, Gaura, lamboya dan wanokaka yang disambut dengan cara berperang kayu lembing/pasola di atas arena bebas, meskipun dalam perang pasola itu ada yang terluka bahkan tewas tetapi tidak akan ada unsur dendam atau sanksi hukum, proses kawin mawin yang mengunakan belis hewan, potong hewan dalam menguburkan orangt mati , ada pesta woleka yang sampai menghabiskan ratusan juta bahkan miliyaran rupiah. pertanyaannya mengapa orang sumba sampai menghabiskan banyak biaya sedemikian?? jawabannya adalah kebanggaan atau kehormatan dan nama besar, dan ini adalah identitas orang Sumba.
Ketika dihubungi langsung dikediamannya bung Umbu Hapu A.Praing (44), menjelaskan bahwa Kepribadian orang sumba tergambar secara filosofis dalam rumah adatnya, setiap unsur yang ada dalam rumah adat, ada makna dan maksudnya. salah satu dapat dlihat pada empat tiang besar yang menopong rumah adat, keempat tiang itu menggambarkan kepemimpinan yang memberikan kehidupan dan menanggung penderiataan rakyatnya. Seorang pemimpin tidak boleh makan jika rakyatnya lapar, pemimpin harus menjadi teladan bagi rakyatnya dan mencintai rakyatnya. Sedangkan tiang yang 12 dan 16 berfungsi sebagai pendukung pemimpin nya. Orang sumba tidak bisa menghidupi dirinya sendiri karena ia bukan maryarakat individualis tetapi maryarakat yang memiliki solidaritas atau kolektivitas. Dapat dilihat dalam acara woleka, orang yang mampu dapat memberikan sedekah daging bagi orang yang tidak mampu secara ekonomi, jadi sebelum indonesia bicara soal sedekah orang sumba telah melakukannya. Sulit untuk menemukan orang sumba yang ideot, karena sejak dalam kandungan hingga umur 6 tahun janin dalam kandungan telah mendapatkan distribusi protein dengan mengkonsumsi daging. Orang Sumba lebih mementingkan akhirat di banding kehidupan duniawi, ini dilihat secara kasat mata lewat kuburannya dan potong hewan pada saat prosesi penguburan orang mati. Yang terjadi saat ini budaya sumba mengalami pertarungan modal dan pertaruhan nilai yang rentan. Budaya Sumba adalah budaya yang kolektiv dan solidaritas bukan individualis, kita berbeda dengan orang Eropa yang individualis dalam artian siapa yang kuat bisa bertahan dan hidup sedangkan yang lemah pasti mati. Banyak orang Sumba mengatakan bahwa budaya Sumba itu boros atau rugi dan ini peryataan yang keliru karena roh atau nyawa orang Sumba ada pada budaya itu. Budaya Sumba adalah “strata” yang mana pada posisi-posisi tertentu sudah ditentukan siapa yang menempatinya. orang Kristen harus bermental merapu tapi bukan menganut marapu.
Kolektifitas dan solidaritas serta sikap gotong royong adalah nilai-nilai yang melekat pada setiap masyarakat Sumba. Namun kondisi ini lambat laun kian terkikis bahkan hampir hilang bahkan tidak ada lagi nampak pada orang Sumba itu sendiri. ini disebabkan, telah menyusup atau masuknya budaya kapitalis dan modernisasi barat, yang mencemari atau menggerogoti nilai-nilai adat-istiadat masyarakat Sumba.
Beliau yang kesehariannya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil ( Kabag Kesra ) di Kabupaten Sumba Barat Daya ini juga mengatakan orang sumba harus takut Tuhan dalam mempertahankan budaya dan adat-istiadatnya. Budaya Sumba harus kembali pada fitrah atau rohnya. seorang pemimpin harus mengerti budaya atau adat-istiadat dan harus mengikuti setiap prosesi adat yang ada. Pemimpin harus menjadi teladan.
Akhir-akhir ini nilai-nilai adat istiadat orang Sumba sungguh memprihatinkan, sudah mengalami degradasi nilai yang sangat signifikan, perubahan pola pikir, munculnya budaya-budaya kontemporer, budaya kapitalis dan modernis. Untuk mengembalikan kebanggaan dan kehormatan orang sumba harus kembali pada fitrahnya yaitu adat-istiadat dan budaya sebagai identitasnya. Ujar menantu Penyair Sumba yang terkenal dan misterius Umbu Landu Paranggi dan suami dari Usi Rambu Anarara Wulang Paranggi,S.Sos dan yang memiliki hobby membaca ini. BM
Nama Lengkap :drh. Umbu Hagu A.Praing , Mph.
Istri : Rambu Anarara Wulang Paranggi, S.Sos
Anak : Nusantara Raya Praing
: Jagat Raya Praing
: Samudera Raya Praing