SAINS
DAN POSTMODERN
Oleh: Yohanes
Reinnamah
Postmodern
yaitu sebuah konsep heuristik yang mula-mula menolak memutlakkan
rasio dan sains, tetapi kemudian berkembang menjadi penolakan
terhadap pemutlakan apapun. Segala sesuatu yang dipikirkan oleh
manusia termasuk agama dan/atau teologi bersifat terbatas. Oleh
karena itu setiap manusia
harus terbuka kepada alternatif lain. Dengan demikian postmodernisme
berarti juga penerimaan terhadap berbagai
aliran
pluralisme, termasuk kemajemukan agama atau theologi.
Selama ini,
pengertian “modern” selalu dihubungkan dengan sebuah gambaran
dunia tertentu, yang diperoleh dari hasil-hasil ilmu pengetahuan
sains. Bahkan seringkali gambaran dunia
modern diidentikkan dengan gambaran dunia sains. Ciri khas modernitas
adalah pemanfaatan rasionalitas, dan gambaran dunia sains adalah
hasil dari pemanfaatan rasionalitas tadi. Padahal postmodernisme
berusaha menyajikan sebuah alternatif lain daripada
gambaran dunia sains. Minimal kita dapat
memperlihatkan bahwa gambaran dunia sains atau modern itu tidak
identik dengan realitas bahwa gambaran dunia tersebut hanyalah
merupakan salah satu
dari sekian banyak gambaran dunia, termasuk gambaran dunia dari
agama-agama.
Pembukaan
alternatif ini bisa menyebabkan kesalahpahaman, seakan-akan
postmodernisme mencakup juga kembalinya konservatisme dan
tradisionalisme. Kalau gambaran dunia dari agama-agama, katakanlah
gambaran dunia dari agama Kristen yang diperoleh dari kitab Kejadian
pasal 1-3, sehingga memunculkan berbagai pertanyaan-pertanyaan
diantaranya adalah: Apakah
postmodernisme berarti relativisme, di mana masing-masing pihak
berdiri pada sudutnya sendiri-sendiri dan mempertahankan kebenarannya
sendiri-sendiri : “menurut kamu begitu, tetapi menurut saya
begini”. Memang
ada yang berpendapat demikian. Karena post modern selalu menerima
keberagaman dalam berpendapat tanpa menyalahkan atau membenarkan
pendapat yang satu tetapi banyak juga di temukan teman-teman yang
menafsirkan postmodern secara konservatif. Melihat berkembangnya
postmodernisme sebagai kesempatan untuk mematahkan dominasi metode
kritis-historis dan memperkembangkan pendekatan “post-kritis”.
Maka introduksi dari metode yang lebih baru misalnya metode
kritis-literer akan disambut baik dan dianggap sebagai bagian dari
pendekatan post-kritis. Tentu saja orang bisa mengatakan bahwa “post
kritis” tidak berarti “tidak kritis”, akan tetapi seringkali
sulit menemukan pengikut pendekatan post-kritis yang berfikir kritis
terhadap pemahaman tertentu mengenai teks Alkitab. Pemahaman tertentu
ini dianggap sebagai “teks autoritatif”. Itu baru berupa segi
pemahaman terhadap teks, belum berupa peninjauan kritis terhadap teks
sendiri! Berarti orang kembali ke situasi sebelum penggunaan
metode-metode yang bersifat kritis, yaitu “pra-kritis”. Salah
paham terhadap berkembangnya metode kritis-literer meneyebapkan
munculnya pandangan bahwa Alkitab bukanlah merupakan kumpulan
rumus-rumus proposisional melainkan merupakan sebuah Cerita atau
Narasi Besar.
Penemuan pokok
narasi di dalam menggali kekayaan Alkitab menyebabkan sebagian orang
di dunia teologi sistematik-etis/filsafati cenderung menentukan bahwa
Firman Allah pada mulanya adalah narasi dan baru kemudian dibatasi
oleh manusia dengan mengubah narasi menjadi proposisi, dan sekarang
yang mengandung kebenaran adalah narasi dan bukan proposisi. Padahal
dalam perkembangan studi Alkitab misalnya mengenai asal-usul
Injil-injil di dalam Perjanjian Baru, semakin banyak penafsir yang
yakin bahwa yang mula-mula terkumpul adalah proposisi-proposisi dalam
bentuk “perkataan yesus”. Baru kemudian "perkataan" ini
diberi kerangka narasi. Menurut saya bahwa aliran "teologi
narasi" yang meyakini bahwa Alkitab adalah satu Cerita Besar
sebenarnya merupakan teologi sistematik-etis/filsafati yang dikemas
dalam bentuk baru berupa narasi, tetapi yang tidak ada hubungannya
sama sekali dengan perkembangan metode kritis-literer-naratif, yang
justru merupakan indikasi dari pengaruh postmodernisme di dalam
bidang penafsiran Alkitab
Dari contoh di atas
kiranya jelas bahwa postmodernisme tidak berarti kembali ke
konservatisme atau tradisionalisme. Itu berarti orang boleh tetap
konservatif dan tradisional. Yang dilawan oleh postmodernisme
bukanlah pemahaman yang bersifat konservatif atau tradisional,
melainkan pemutlakannya, yang biasanya disebut konservatisme
dan tradisionalisme. Di atas kita telah melihat bahwa postmodernisme
melawan pemutlakan apapun. Di dalam konteks pembicaraan Küng itu
berarti perlawanan terhadap pemutlakan gambaran dunia sains, yang
biasanya disebut saintisme. Tetapi perlawanan terhadap pemutlakan
gambaran dunia sains ini tidak berarti mengganti pemutlakan gambaran
dunia sains dengan pemutlakan gambaran dunia yang lain. Berjalan pada
jalur "postmo" tidak berarti kembali ke ketertutupan.
Gejala menutup diri ini nampak pada argumentasi orang, yang
mempersilakan yang lain menjalankan pendapatnya, tetapi dia akan
bertahan pada pendapatnya sendiri. Kelihatannya hal ini bukan
ketertutupan melainkan toleransi, namun saya mau mengatakan bahwa
banyak pemahaman toleransi di Indonesia, yang sebetulnya merupakan
"kesadaran palsu" yang menyelubungi ketertutupan satu
terhadap yang lain.
Seharusnya kita
harus mewaspadai perbedaan-perbedaan sains dari humaniora, pada
akhirnya pengambilalihan teori perubahan paradigma dari sains ke
teologi didasarkan atas kedekatan analogis di antara teologi dan
sains. Di dunia Barat biar bagaimanapun sains masih tetap memegang
wibawa yang paling tinggi sebagai "Queen of the Sciences".
Kedudukan ini diperolehnya dengan jalan menurunkan teologi dari
kedudukannya yang tadinya adalah sebagai "Queen of the
Sciences", seperti yang kita baca dari sejarah masa Pencerahan
di Eropa Barat. Oleh karena itu apabila teologi ingin mendapatkan
kembali pengaruh di dalam hidup bermasyarakat, teologi tetap perlu
mempertahankan kedekatan analoginya dengan sains. Teori
perubahan paradigma dari Kuhn memang telah menggoncangkan dunia sains
pada tahun 70-an sampai 80-an. Tetapi yang sering dilupakan adalah
bahwa teori ini tidak sedikitpun menggeser kemutlakan gambaran dunia
sains. Ia masih tetap merupakan bagian dari dominasi gambaran dunia
sains terhadap/dibandingkan dengan gambaran-gambaran dunia lainnya.
Maka marilah kita
menerima perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara kita sebagai
sebuah dinamika, dengan melihat pada makna dari perbedaan yang
menghasilkan pengkayaan akan cakrawala berpikir kita tetapi janganlah
perbedaan kita ini di lihat dari bagian pertentangan yang akan
bermuara pada sekat-sekat di dalam batin. Buat teman-teman GMKI
se-cabang kupang atau siapa saja yang sempat membaca tulisan ini,
marilah kita sama-sama belajar menghadirkan kembali tokoh abadi
sepanjang masa yakni yesus kristus yang penuh kasih, dan rendah hati
serta memiliki pengharapan akan hasil yang akan di tuai nanti di
setiap tapak-tapak langkah kita di tengah asa dunia. Akhirnya di
bawah terang tema “Jadilah Berhikamat! Berjalanlah Pada Jalan
Kebenaran Di Tengah-Tengah Jalan Keadilan” saya ucapkan “Ut Omnes
Unum Sint” bauat kita semua. Yesus kristus sang kepala gerakan akan
meyertai kita semua. Amin