Senin, 01 Oktober 2012

POSISI BUDAYA SUMBA DALAM MENGHADAPI ERA MODERNISASI
Umbu Hapu A. Praing
Bicara budaya/adat istiadat bagi orang sumba adalah identitas/kebanggaan yang tidak dapat dipisahkan, budaya atau adat-istiadat selalu melekat kemanapun orang itu pergi. Ini dapat dilihat lewat tutur katanya yang santun dan dari cara berpakaian adatnya. Sumba terkenal dengan pulau cendana, kuda sandlewood, padang sabana, bentuk rumahnya yang khas dan beberapa burung langka yang hanya terdapat disumba tidak ditemukan di daerah lain. Namun yang menjadi keunikan tersendiri bagi orang sumba adalah budaya/adat-istiadat dan prosesi perayaan atau pelaksanaannya yang rumit dan menghabiskan jutaan bahkan miliyaran rupiah. Misalnya rumah adatnya yang terbuat dari bahan dasar kayu, alang, rotan dengan menara yang sangat tinggi. Kuburan yang terbuat dari batu yang diambil di bukit dan di laut. Ada perayaan nyale di kodi, Gaura, lamboya dan wanokaka yang disambut dengan cara berperang kayu lembing/pasola di atas arena bebas, meskipun dalam perang pasola itu ada yang terluka bahkan tewas tetapi tidak akan ada unsur dendam atau sanksi hukum, proses kawin mawin yang mengunakan belis hewan, potong hewan dalam menguburkan orangt mati , ada pesta woleka yang sampai menghabiskan ratusan juta bahkan miliyaran rupiah. pertanyaannya mengapa orang sumba sampai menghabiskan banyak biaya sedemikian?? jawabannya adalah kebanggaan atau kehormatan dan nama besar, dan ini adalah identitas orang Sumba.
Ketika dihubungi langsung dikediamannya bung Umbu Hapu A.Praing (44), menjelaskan bahwa Kepribadian orang sumba tergambar secara filosofis dalam rumah adatnya, setiap unsur yang ada dalam rumah adat, ada makna dan maksudnya. salah satu dapat dlihat pada empat tiang besar yang menopong rumah adat, keempat tiang itu menggambarkan kepemimpinan yang memberikan kehidupan dan menanggung penderiataan rakyatnya. Seorang pemimpin tidak boleh makan jika rakyatnya lapar, pemimpin harus menjadi teladan bagi rakyatnya dan mencintai rakyatnya. Sedangkan tiang yang 12 dan 16 berfungsi sebagai pendukung pemimpin nya. Orang sumba tidak bisa menghidupi dirinya sendiri karena ia bukan maryarakat individualis tetapi maryarakat yang memiliki solidaritas atau kolektivitas. Dapat dilihat dalam acara woleka, orang yang mampu dapat memberikan sedekah daging bagi orang yang tidak mampu secara ekonomi, jadi sebelum indonesia bicara soal sedekah orang sumba telah melakukannya. Sulit untuk menemukan orang sumba yang ideot, karena sejak dalam kandungan hingga umur 6 tahun janin dalam kandungan telah mendapatkan distribusi protein dengan mengkonsumsi daging. Orang Sumba lebih mementingkan akhirat di banding kehidupan duniawi, ini dilihat secara kasat mata lewat kuburannya dan potong hewan pada saat prosesi penguburan orang mati. Yang terjadi saat ini budaya sumba mengalami pertarungan modal dan pertaruhan nilai yang rentan. Budaya Sumba adalah budaya yang kolektiv dan solidaritas bukan individualis, kita berbeda dengan orang Eropa yang individualis dalam artian siapa yang kuat bisa bertahan dan hidup sedangkan yang lemah pasti mati. Banyak orang Sumba mengatakan bahwa budaya Sumba itu boros atau rugi dan ini peryataan yang keliru karena roh atau nyawa orang Sumba ada pada budaya itu. Budaya Sumba adalah “strata” yang mana pada posisi-posisi tertentu sudah ditentukan siapa yang menempatinya. orang Kristen harus bermental merapu tapi bukan menganut marapu.
Kolektifitas dan solidaritas serta sikap gotong royong adalah nilai-nilai yang melekat pada setiap masyarakat Sumba. Namun kondisi ini lambat laun kian terkikis bahkan hampir hilang bahkan tidak ada lagi nampak pada orang Sumba itu sendiri. ini disebabkan, telah menyusup atau masuknya budaya kapitalis dan modernisasi barat, yang mencemari atau menggerogoti nilai-nilai adat-istiadat masyarakat Sumba.
Beliau yang kesehariannya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil ( Kabag Kesra ) di Kabupaten Sumba Barat Daya ini juga mengatakan orang sumba harus takut Tuhan dalam mempertahankan budaya dan adat-istiadatnya. Budaya Sumba harus kembali pada fitrah atau rohnya. seorang pemimpin harus mengerti budaya atau adat-istiadat dan harus mengikuti setiap prosesi adat yang ada. Pemimpin harus menjadi teladan.
Akhir-akhir ini nilai-nilai adat istiadat orang Sumba sungguh memprihatinkan, sudah mengalami degradasi nilai yang sangat signifikan, perubahan pola pikir, munculnya budaya-budaya kontemporer, budaya kapitalis dan modernis. Untuk mengembalikan kebanggaan dan kehormatan orang sumba harus kembali pada fitrahnya yaitu adat-istiadat dan budaya sebagai identitasnya. Ujar menantu Penyair Sumba yang terkenal dan misterius Umbu Landu Paranggi dan suami dari Usi Rambu Anarara Wulang Paranggi,S.Sos dan yang memiliki hobby membaca ini. BM
Nama Lengkap :drh. Umbu Hagu A.Praing , Mph.
Istri : Rambu Anarara Wulang Paranggi, S.Sos
Anak : Nusantara Raya Praing
: Jagat Raya Praing
: Samudera Raya Praing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar