POSISI BUDAYA SUMBA
DALAM MENGHADAPI ERA MODERNISASI
Umbu Hapu A.
Praing
Bicara budaya/adat
istiadat bagi orang sumba adalah identitas/kebanggaan yang tidak
dapat dipisahkan, budaya atau adat-istiadat selalu melekat kemanapun
orang itu pergi. Ini dapat dilihat lewat tutur katanya yang santun
dan dari cara berpakaian adatnya. Sumba terkenal dengan pulau
cendana, kuda sandlewood, padang sabana, bentuk rumahnya yang khas
dan beberapa burung langka yang hanya terdapat disumba tidak
ditemukan di daerah lain. Namun yang menjadi keunikan tersendiri bagi
orang sumba adalah budaya/adat-istiadat dan prosesi perayaan atau
pelaksanaannya yang rumit dan menghabiskan jutaan bahkan miliyaran
rupiah. Misalnya rumah adatnya yang terbuat dari bahan dasar kayu,
alang, rotan dengan menara yang sangat tinggi. Kuburan yang terbuat
dari batu yang diambil di bukit dan di laut. Ada perayaan nyale di
kodi, Gaura, lamboya dan wanokaka yang disambut dengan cara berperang
kayu lembing/pasola di atas arena bebas, meskipun dalam perang pasola
itu ada yang terluka bahkan tewas tetapi tidak akan ada unsur dendam
atau sanksi hukum, proses kawin mawin yang mengunakan belis hewan,
potong hewan dalam menguburkan orangt mati , ada pesta woleka yang
sampai menghabiskan ratusan juta bahkan miliyaran rupiah.
pertanyaannya mengapa orang sumba sampai menghabiskan banyak biaya
sedemikian?? jawabannya adalah kebanggaan atau kehormatan dan nama
besar, dan ini adalah identitas orang Sumba.
Ketika dihubungi
langsung dikediamannya bung Umbu Hapu A.Praing (44), menjelaskan
bahwa Kepribadian orang sumba tergambar secara filosofis dalam rumah
adatnya, setiap unsur yang ada dalam rumah adat, ada makna dan
maksudnya. salah satu dapat dlihat pada empat tiang besar yang
menopong rumah adat, keempat tiang itu menggambarkan kepemimpinan
yang memberikan kehidupan dan menanggung penderiataan rakyatnya.
Seorang pemimpin tidak boleh makan jika rakyatnya lapar, pemimpin
harus menjadi teladan bagi rakyatnya dan mencintai rakyatnya.
Sedangkan tiang yang 12 dan 16 berfungsi sebagai pendukung pemimpin
nya. Orang sumba tidak bisa menghidupi dirinya sendiri karena ia
bukan maryarakat individualis tetapi maryarakat yang memiliki
solidaritas atau kolektivitas. Dapat dilihat dalam acara woleka,
orang yang mampu dapat memberikan sedekah daging bagi orang yang
tidak mampu secara ekonomi, jadi sebelum indonesia bicara soal
sedekah orang sumba telah melakukannya. Sulit untuk menemukan orang
sumba yang ideot, karena sejak dalam kandungan hingga umur 6 tahun
janin dalam kandungan telah mendapatkan distribusi protein dengan
mengkonsumsi daging. Orang Sumba lebih mementingkan akhirat di
banding kehidupan duniawi, ini dilihat secara kasat mata lewat
kuburannya dan potong hewan pada saat prosesi penguburan orang mati.
Yang terjadi saat ini budaya sumba mengalami pertarungan modal dan
pertaruhan nilai yang rentan. Budaya Sumba adalah budaya yang
kolektiv dan solidaritas bukan individualis, kita berbeda dengan
orang Eropa yang individualis dalam artian siapa yang kuat bisa
bertahan dan hidup sedangkan yang lemah pasti mati. Banyak orang
Sumba mengatakan bahwa budaya Sumba itu boros atau rugi dan ini
peryataan yang keliru karena roh atau nyawa orang Sumba ada pada
budaya itu. Budaya Sumba adalah “strata” yang mana pada
posisi-posisi tertentu sudah ditentukan siapa yang menempatinya.
orang Kristen harus bermental merapu tapi bukan menganut marapu.
Kolektifitas dan
solidaritas serta sikap gotong royong adalah nilai-nilai yang melekat
pada setiap masyarakat Sumba. Namun kondisi ini lambat laun kian
terkikis bahkan hampir hilang bahkan tidak ada lagi nampak pada orang
Sumba itu sendiri. ini disebabkan, telah menyusup atau masuknya
budaya kapitalis dan modernisasi barat, yang mencemari atau
menggerogoti nilai-nilai adat-istiadat masyarakat Sumba.
Beliau yang
kesehariannya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil ( Kabag Kesra ) di
Kabupaten Sumba Barat Daya ini juga mengatakan orang sumba harus
takut Tuhan dalam mempertahankan budaya dan adat-istiadatnya. Budaya
Sumba harus kembali pada fitrah atau rohnya. seorang pemimpin harus
mengerti budaya atau adat-istiadat dan harus mengikuti setiap prosesi
adat yang ada. Pemimpin harus menjadi teladan.
Akhir-akhir ini
nilai-nilai adat istiadat orang Sumba sungguh memprihatinkan, sudah
mengalami degradasi nilai yang sangat signifikan, perubahan pola
pikir, munculnya budaya-budaya kontemporer, budaya kapitalis dan
modernis. Untuk mengembalikan kebanggaan dan kehormatan orang sumba
harus kembali pada fitrahnya yaitu adat-istiadat dan budaya sebagai
identitasnya. Ujar menantu Penyair Sumba yang terkenal dan misterius
Umbu Landu Paranggi dan suami dari Usi Rambu Anarara Wulang
Paranggi,S.Sos dan yang memiliki hobby membaca ini. BM
Nama
Lengkap :drh. Umbu Hagu A.Praing , Mph.
Istri
: Rambu Anarara Wulang Paranggi, S.Sos
Anak
: Nusantara Raya Praing
: Jagat Raya Praing
: Samudera Raya Praing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar